Minggu, 26 Desember 2010

MALAYSIANCHEATLASER membawa kekalahan.

Tadi malem sampe sekarang, beneran, saya atau mungkin yaah semua rakyat INDONESIA masih marah, kecewa, kesel sama pertandingan yang dimenangin Malaysia tadi malem. Well, menurut saya MALAYSIACHEATLASER ke Markus dan akhirnya bisa nyiptain 3 Gol di babak akhir.

Mereka itu ada-ada aja, kekanakkan sampe lempar petasan segala ke arah lapangan. Mereka pikir main bola itu sama aja kayak lagi dugem apa hah?? Sampe main laser dan petasan. Cuih *pengen ngeludah langsung ke yang nembakkin lasernya*

Tiga gol masuk ke dalam gawang Indonesia. Miris. Gol pertama, saya masih terus teriak-teriak kalau Indonesia pasti bisa ngebales. Sayang, harapan saya memudar pas gol kedua tercipta lagi dari negara palgiat itu a.k.a Malaysia. Dan dan sumpah, rasanya nyesek, pengen nangis, pas gol ketiga masuk lagi ke gawang Indonesia. Saya kecewa..


Tapi semangat saya agak meningkat lagi pas Arif Suyono masuk gantiin Yongki. Si kecil berprsetasi itu ngegollin, dan eh eh ternyata saudara-saudara saya salah, itu gol tidak sah. Itu OFFSIDE! Mati, pasrah.


Hari ini saya cuma bisa berharap kalau timnas Indonesia bisa bangkit lagi. Bahkan kalau perlu pas di GBK nanti mereka bisa ngegollin 6-0! Sampai telak. Sampai Malaysia sadar kalau negara kita ini lebih baik dan bukan negara Plagiat kayak mereka HAHAHA. Dan juga bukan ngeri LASER yang membahayakan. Suporter Indonesia mudah-mudahan tanggal 29 nanti gak kepancing, gak melakukan hal BUSUK yang sama kayak MALAYSIAN. Amin.

Indonesia, aku bangga padamu. Tunjukkan prestasimu, tunjukkan pada negeri seberang itu KALAU TIM NASIONAL INDONESIA PASTI BISA mengalahkan mereka!!

Minggu, 19 Desember 2010

The Winner Is My Country. . INDONESIA!!

Hari ini hari yang paling membanggakan kali ya buat Indonesia. Sekali lagi negara kita menang atas Filipina 1-0. Gue sih awalnya gak yakin haha, ya tau sendirilah begimana Indonesia dulu-dulu yang agak kendor.
Tapi pas udah menit ke sepuluhan gue malah berubah pikiran. Indonesia pasti bisa, Indonesia pasti bikin GOL. Dan yaa akhirnya Gonzales si pangeran lapangan berulah dengan memberikan 1 GOL buat Indonesia. Gue lupa itu menit ke berapa yang pasti tembakannya keren mamen!!
Yang gue suka lagi dari Timnas Indonesia itu si Markus noh, ujugileee pertahananan dia mentep banget cuy!! Botak-botak kayak bola hahahapiss ._.v
Nah yang ketiga ya? Okedah gue akui gue salut sama Nasuha. Kepala dijait 2 kali tapi semangatnya minta ampun, tetep lincah. Yang gue takutin pas dia main tadi taku dia jatuh terus kepalanya, awww gak kebayang gue. Uh untung dia gapapa haha terimakasih yaAllah. .
Ke-empat gue melotot liat si Okto lari. Kenceng tapi agak ceroboh sih ya kata gue mah, eh atau apa sih namanya, kalo udah deket gawang dia suka kebablasan gitu deh dan gak masuk jadinya, but yaa he's cool.
Ada satu pemain Timnas juga yang bikin gue sama bokap ngakak gede-gede, si Zulkifli haha. Dia mirip om gue yaampun baru nyadar pas babak ke 2 hari ini!
Satu yang gue sesalin dikit kali ya. Si Irfan kok kagak main? Oh yeah Igue tau dia lagi cedera. Di bagian 'selangkangan' lagi. Duh. . Ngebayangin aja udah gak enak -_-
Wislah, cukup segini aja. Indonesia, gue gak tau kapan bakal lawan Malaysia. Hhh kita liat nanti, apa Indonesia bakal menangin lagi? Semoga, iya. Gue mah berdoa aja bisa bantunya hehe :)
Indonesia BISA!!

Sabtu, 18 Desember 2010

About You, About My Love (cerpen)

15 Desember 2010, 10:46:54 PM

Sebenernya aku udah tau, aku juga udah yakin dari semenjak selesai dibuat, cerita ini enggak akan jadi semenarik apa yang kalian bayangkan hehe.. tapi yah inilah aku, seenak jidatnya aja ngepost cerpen jelek. Maaf ya..

Semoga suka :)
--------------------------------------
About You,  About My love
--------------------------------------

Aku selalu menatapnya. Memerhatikan setiap gerak dan lengkung senyum yang terukir dibibirnya. Aku ikut tersenyum, merasakan aura kebahagiaan yang kentara sekali di wajahnya, walau aku melihatnya dari jarak… jauh, dari balkon depan kelas.

Sudah sejak 9 bulan yang lalu aku begini. Menatapnya lekat dari jauh seperti patung. Terus berdiri ataupun duduk dari sudut balkon depan kelas yang pas hingga mataku bisa menangkap sosoknya dibalkon depan kelasnya juga yang memang letaknya agak sedikit jauh dan bersebrangan dari kelasku.

9 bulan, aku mencintainya diam-diam. Tidak pernah berbuat untuk mendekati atau sedikitpun menyapa seperti dulu-dulu sebelum rasa canggung itu merasuk sukma sehingga aku hanya bisa terlihat angkuh—sombong, tidak seperti dulu yang dengan leluasanya bertegur sapa, mengobrol ataupun bercanda tawa.

Aku tidak ingin seperti ini, tapi belum pernah ku usahakan untuk tidak jadi seperti ini.

Aku ingin seperti dulu, tapi belum pernah ku beranikan diri untuk mengulangnya kembali.

Tapi mungkin, inilah saatnya juga.
Saat dimana.. seharusnya, aku sudah mulai melupakan perasaanku.
***

Aku masih ingat betul bagaimana mimik mukanya saat pertama kali menghampiriku. Sedikit canggung tapi tetap terulas senyum dibibirnya. Saat itu aku belum tahu siapa dia, kelas berapa dia dan kenapa dia tiba-tiba menghampiriku yang tengah berdiri didepan balkon kelas ruang 14—tempat dimana sahabatku menjalani ulangan akhir semesternya disitu. Ah ya, saat itu sekolahku memang tengah melaksanakan ulangan akhir semester 1—sendirian. Err.. sebenarnya aku tidak sendirian, hanya saja aku yang menyendirikan diri. Satu dua temanku berdiri sedikit jauh dari tempatku. Aku memandang ke bawah, memerhatikan kakak-kakak kelas yang sedang bermain lari-larian dibawah, menunggu bel masuk berbunyi, seperti.. pengamat bolakah?

“Ada apa?” saat itu aku bertanya, membalikkan badan setelah Nyopon—orang yang menemani dia—menoel, aku mengangkat alis, menunggu, gemas, karena dia dan Nyopon dari tadi hanya menatapku dengan senyum dan tubuh yang kaku. Tidak berkata apa-apa, saling menyenggol lengan, melirik padaku, membuka mulut lalu mengatupnya kembali dengan cepat, membiarkan aku yang terheran-heran melihatnya.

“Mau apa sih Nyopon?” tanyaku lagi pada Nyopon, adik kelasku. Aku tahu Nyopon, adik kelas yang menurutku sangat mirip sekali dengan saudaraku yang berada jauh diluar kota sana. Melihat Nyopon, sama saja seperti melihat saudaraku. Menggemaskan, ingin mencubit, tapi tak mungkin aku lakukan.

“Heh, malah pada diem sih. Kenapa?” untuk ketiga kalinya aku bertanya pada saat itu, berusaha bersabar. Kali-kali yang akan dibicarakan si Nyopon dan dia itu penting—membahas masalah yang ditawarkan 2 hari yang lalu.

“Eh.. em, ini kak, em..si Rio mau mesen sweater karate.” Jawab Nyopon akhirnya, sedikit terbata, menggaruk-garuk belakang tengkuknya. Aku mengulum senyum, mengangguk, benar apa yang aku pikirkan saat itu. Ternyata Nyopon dan dia pada mau memesan sweater. Berhubung aku yang disuruh menjadi koordinatornya, jadilah mereka menghampiriku.

“Lah emang dia ikutan ya?” tanyaku lagi, mengelus-elus bagian bawah bibir dengan tangan sambil memerhatikannya dari atas sampai bawah. Saat itu, selama 3 bulan sejak pertama kali anak-anak kelas 10 masuk sebagai siswa-siswi disekolahku dan beberapa anak yang ikut eskul karate, aku memang jarang melihat dia—atau aku saja yang memang tidak begitu perhatian.

Nyopon dan dia langsung mengangguk-anggukan kepalanya dengan cepat. “Ya iyalah, gak pernah ngeliat apa?” ia memajukan sedikit bibirnya, mungkin kecewa karena aku bertanya seperti itu. Ah ayolah, saat itu aku memang jarang sekali melihatnya di setiap waktu latihan karate.

“Oh oke oke, tunggu sebentar. Kakak ambil dulu bukunya, tunggu sini, jangan pergi.” Kataku cepat, langsung membalikkan badan lalu berlari menuju ruangan 16—ruangan kelas yang aku tempati.

“Nah siapa nama kamu?” tanyaku, pada ia yang saat itu sedikit mencondongkan badan agar bisa melihat buku yang ku letakkan diatas dinding pembatas balkon dengan jelas. Aku sedikit membungkuk, bersiap-siap menulis apa yang akan dikatakannya saat itu.

“Rio kak, kan tadi si Nyopon bilang.” Jawabnya sambil mundur sedikit karena aku langsung menegakkan tubuh dan beralih menatapnya. Mengangkat pensil yang ku selipkan diantara jari telunjuk dan tengah lalu mengetukkan ke kepalanya.

“Iya tau, tapi nama lengkap kamunya Riooooo.” Kataku gemas, memanjangkan suara disaat aku menyebut namanya.
Ia terkekeh, mengelus dengan salah satu tangannya ke bagian kepala yang tadi ku pukul pakai pensil sambil menyengir lebar. “Rio, Mario Stevano Aditya Haling kak Achaaaaa..”

“Eh sorry diulang,” kataku sambil menuliskan nama Mario dibuku dengan cepat, lupa embel-embel yang ada dibelakang nama Marionya. Dan saat itu aku tdak peduli dengan suara Rio yang mengikuti gaya bicaraku sebelum dia.

“Ya elah pikun amat haha..”

“Yee kan kamu tadi ngomongnya cepet kayak kereta api.”
“Huu itu mah kuping kakaknya aja yang ga bener..”

“Ih dibilangin tuh ya!!”
“Dibilangin apa? Hahaha..”

Aku masih ingat betul percakapan itu, masih panjang sebenarnya, tapi aku tidak mungkin menceritakannya lebih detail lagi karena bisa-bisa menghabiskan banyak lembar halaman. Dan tentu saja, dengan isi yang hanya berupa percakapan garing dimata kalian.

Tapi.. menurutku tidak. Itulah salah satu bagian yang bisa ku anggap sebagai kenanganku bersamanya. Percakapan itu, candaan itu masih terekam jelas di ingatanku. Bagaimana suaranya, bagaimana mimik wajahnya, senyum lebarnya dan sentuhan-sentuhan kecilnya yang mendarat di lenganku.

Tinggi tubuhnya saat itu masih sedikit dibawahku, mungkin se-pipi. Kulitnya coklat manis, rambutnya sedikit jabrik dibagian belakang dan poni dibagian depan yang sengaja dikesamping kirikan. Waktu itu aku belum begitu memerhatikannya, tapi aku masih ingat betul apa saja yang kentara dalam dirinya saat itu dan kini telah ku kuak kembali.
***

“Ih.. kak Acha compong hehehe..” itu katanya, waktu itu kalau aku tidak salah ingat 2 hari setelah membicarakan masalah pemesanan jaket. Saat itu aku sedang berjalan cepat menuju ruangan 13, dan ia berkata seperti itu, dengan tiba-tiba. Aku saja baru menyadari ada dia setelahnya  bicara seperti itu padaku. Ya, saat itu aku tengah kesal hingga tidak memerhatikan sekeliling. Hanya lurus menatap ke depan sambil memanyunkan bibirku.

Saat itu ia sedang duduk dibalkon depan ruangan 14—yang ternyata ruangannya juga waktu menghadapi ulangan semester. Ia tersenyum lebar, menatapku dengan mata yang berbinar ceria sambil memasukkan peralatan tulisnya ke dalam tas—tapi matanya tetap terarah padaku.

Mungkin karena saat itu aku lagi sebal-sebalnya jadi aku tidak memedulikannya dan langsung melengos pergi. Ah.. andai saja, saat itu bisa ku ulang. Andai saja saat itu setan sedang tidak ada dalam diriku sampai aku—dengan bisa-bisanya—tidak memedulikannya. 
***

Aku masih ingat godaannya saat itu. Bersamaan juga dengan senggolan tangannya disikutku dan senyuman yang ia sunggingkan. Ah.. saat itu juga baru ku sadari kalau ia mempunyai senyuman yang sangat.. manis.

Mungkin saat itu juga lah pertama kalinya degup jantungku berubah jadi dua kali lebih cepat. Merasakan rona-rona kemerahan dipipi dan sangat salah tingkah dihadapannya. Aku dulu tidak tahu itu apa, aku tidak tahu apa artinya itu, dan aku dulu tidak mengerti apa yang dirasakanku saat ada disebelahnya. Hanya.. nyaman sekali.

Waktu itu hari ke-4 dalam hitungan masih di minggu aku ulangan semester. Seingatku, waktu itu aku berkeliling sendirian ke setiap kelas dan memintakan nomor hape anak-anak yang ikut eskul karate.  Setengah jam aku keliling-keliling kelas dan akhirnya giliran kelasnya lah.

Aku memasuki ruangan 14. Lalu menghampiri setiap anak karate yang ada didalam kelas dan menanyai nomor hapenya. Saat itu aku tidak melihatnya didalam kelas, aku juga tidak berharap-harap kalau aku akan mendapatkan nomornya. Baiklah.. setelah aku selesai mencatat nomor-nomor hape yang ada diruangan 14, aku beranjak keluar.

Melihat Riko yang sedang berdiri membelkangiku—didepan kelas—aku pun akhirnya mendekati. Riko itu teman satu eskul karateku juga, anaknya lucu, blak-blakkan tapi.. ya.. seperti itulah.

Aku memukul bahunya pelan, menyadarkan Riko kalau aku ada dibelakangnya.

“Eh kenapa Cha?” tanya Riko, mengerutkan alis sambil menegakkan badan yang tadi agak membungkuk dan berbalik menghadapku. Aku menyengir lebar lalu menyodorkan buku yang ku pakai untuk mencatat nomor hape anak-anak.

“Minta nomormu Ko, hehe.”

“Buat apaan?”
“Kata senpai (pengajar karate) Duta, ayo  cepet ditulis..”

“Senpai Duta? Buat apaan? Elaaah pasti nomornya buat kamu ya Cha? Haha..”
Saat itu aku langsung mendorong bahunya, pelan. Enak saja, aku tidak pernah berminat ya minta nomor si Riko ini. Iuuh.. buat apa juga coba?

“Jangan bercanda, cepet tulis.” Kataku, sedikit ketus. Tidak ingin berlama-lama dengan si Riko ini. Akhirnya ia menulis dengan enggan setelah ku paksa lagi dan memelototinya. Aku benar-benar ingin cepat mencari, ah..

“Nulis apaan itu kak?” Nyopon sudah ada disampingku, aku masih ingat betul saat itu. Menunjuk dengan dagu buku yang tengah dipegang Riko. Aku tersenyum, mengangguk. Mendeham sekali sambil menjawab dan langsung menarik buku dari Riko yang ada disamping kananku lalu menyodorkannya pada Nyopon.

“Tulis nama sama nomor hape kamu, di..sini.” kataku, lembut, sedikit dibuat-buat. Baiklah, saat itu aku akui aku memang sengaja memintakan nomor-nomor setiap anak karate hanya untuk menjadikannya alasan. Alasan agar aku mendapat nomor si Nyopon.

Oh, tidak. Aku tidak menyukai Nyopon. Aku hanya suka sekali dengan gayanya yang mirip sekali dengan saudaraku yang ada jauh disana. Aku jarang bertemu saudaraku yang lucu itu, makanya, setelah aku melihat Nyopon, aku sangat tertarik menjadikannya sebagai adik.

“Oke, oke. Untuk apa?” tanya Nyopon, meraih buku yang dipegangku, lalu merogoh sakunya dan mengambil sebuah pulpen dan mulai menulis. “Ah.. eh.. em, buat senpai. Disuruh.” Saat itu aku jelas berbohong. Masa sih aku mengakui langsung alasanku hanya karena untuk mendapatkan nomor si Nyopon? Malu dong hihi..

“Ciee tau lah yang udah punya pacar sih cuma maintain nomor pacarnya aja..” aku kenal suara itu. Suara yang pertama kali menyapaku 5 hari yang lalu pada saat itu dengan lembut, sedikit canggung dan akhirnya terus membuatku tertawa.
Aku menoleh ke sumber suara itu, dan ia memang.. Rio. Ia berdiri disamping Nyopon, melirikku dengan tatapan nakal dan senyum jailnya. Seakan-akan menggodaku untuk mengakui, ah apa juga yang harus ku akui saat itu?

“Ih apaan sih.. Gak nyambung! Pacar sama minta nomor hape apa hubungannya coba?” aku menatapnya, tepat di mata, ia masih saja dengan mimik wajah yang awal, membuatku ingin tertawa geli, tapi dengan sekuat tenaga, saat itu,  aku terus menahan kedua sudut bibirku agar tidak ikutan tertarik ke atas dan membentuk seulas senyum maupun tawaan lebar. Karena suaranya saja punya tarikan sendiri yang bisa membuatku tersenyum, duh..

“Lagian kalau pacar kan harusnya udah tahu semua tentang pacarnya dong ya..” lanjutku lagi, lalu mengalihkan pandangan dari dia ke buku yang ada ditangan Nyopon. Nyopon hanya diam, mukanya tanpa ekspresi dan akhirnya meninggalkan aku dan dia dengan anggukan kepala.

“Hehe iya juga sih ya.. tapi.. emm kakak suka Nyopon ya?”

Aku sontak menoleh lagi ke arahnya, menggeleng cepat sambil menyodorkan buku yang aku sudah aku pegang. “Enggaklah. Udah ah cepet tulis nama kamu, disini, nomormu juga Yo.” Kataku, menghela napas lantas tersenyum. Asal kalian tahu, saat itu Rio terus tersenyum. Dan ah.. akhirnya senyum yang ia sunggingkan tertular juga padaku dalam jangka waktu yang sangat cepat.

“Oh minta nomorku juga toh hehe oke deh..” ia mengambil buku yang aku sodorkan, menaruhnya ke pembatas dinding dan mulai menulis. Tulisannya rapih, agak sedikit miring seperti tegak bersambung.
Dari situ aku mulai menyadari..

Aku suka caranya menulis. Aku suka cara ia menyunggingkan senyum, aku suka matanya yang berbinar ceria dengan kedewasaan yang sangat kentara juga didalam bola matanya. Aku suka semua yang ada dalam dirinya yang saat itu ku lihat. Dan saat itu juga aku mengerti.. kalau aku sudah mulai tertarik pada dia..
***

Berbulan-bulan yang lalu, setelah aku mulai tertarik sama Rio aku terus menggali semua berita yang ada hubungannya sama dia. Dan ternyata Rio  sudah punya pacar—teman sekelasnya, tapi saat itu aku masih biasa saja. Belum terlalu mementingkan. Dulu, aku masih berpikir kalau aku hanya tertarik, kagum, ah mungkin saat itu aku berpikir sebagai fansnya mungkin?

Aku suka smsan sama dia. Tapi hanya sekedar basa-basi sampai akhirnya nomor ia sudah tidak aktiv lagi. Kira-kira itu waktu bulan Februari. Aku sudah mulai kehilangan kontak. Aku tidak tahu nomor barunya dan aku tidak berani lagi memintanya, gengsi.

Gengsi itu malah keterusan. Membuatku tidak berani lagi menyapanya, atau sekedar tersenyum. Aku canggung. Tidak berani. Aku hanya berjalan terus dan berpura-pura seakan tidak melihatnya. Angkuh, seakan tidak pernah kenal satu sama lain.

Waktu latihan karate aku—entah kenapa, saat itu—selalu menunggunya. Berharap ia datang dan kita bisa memperbaiki keadaan yang tidak enak diantara kita. Tapi sayang, ia selalu absen. Tidak datang, tidak menunjukkan batang hidungnya. Dan aku hanya bisa menghela napas..

Satu bulan setengah, setelah aku kehilangan kontak dengannya waktu itu, aku sudah tidak pernah melihat dia latihan lagi. Jujur, aku uring-uringan. Dan lagi-lagi saat itu aku hanya menganggap ini hal biasa, sepele, bukan masalah..em.. yah kalian bisa menebak sendiri..

Baiklah, sepertinya saat itu aku sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya kenapa dia bisa keluar. Karena aku memang tidak berani lagi, maka aku tanyakan pada teman sekelasnya. Euh, dia keluar ternyata. Bentrok sama eskul satunya. Aku hanya melenguh dalam hati. Benarkah? Atau ia melakukan itu semua hanya karena pacarnya yang memang eskul disitu juga?
***

Ternyata gara-gara ia juga tidak pernah mendekatiku seperti dulu lagi, semakin hari aku jadi lebih tidak berani lagi menyapanya, menegurnya, atau senyum sekedarnya. Aku canggung. Hanya melewatinya dalam diam dan angkuh, tapi setelah melangkahinya satu langkah jalan, aku tersenyum. Senang. Senang karena aku jalan berpapasan dengannya.
Munafik ya? Memang. Aku sudah menyadari itu semua dari dulu.
***

Ada hal yang menggembirakan. Dia tersenyum padaku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama kita tidak pernah bertegur sapa. Dia tersenyum dan saking kagetnya aku malah tidak membalasnya. Waktu ini adalah dua minggu yang lalu, saat ia akan berangkat kemping dan aku terus menatapnya. Dia menoleh, dia tahu aku terus menatapnya dan akhirnya dia.. tersenyum!
***

Perasaanku ini yang tahu hanya Sivia, sahabatku. Aku cerita pada Via—panggilan singkatnya—pas bulan Januari, setelah aku mulai menyadari kalau aku tertarik pada dia. Aku tidak mengatakan aku suka, aku bilang hanya tertarik saat itu.

5 bulan Rio tidak menjalani suatu hubungan, menjomblo bahasa kerennya—tapi baru-baru ini aku baru tahu kalau dia ternyata sudah punya penggantinya lagi. Ia putus dengan pacarnya yang waktu itu pernah ku ceritakan sebagai asal mulanya dia keluar eskul karate sekitar bulan April—aku tahu dari teman sekelasnya, lagi. Aku senang, bahagia. Terus berharap kalau tiba-tiba Rio akan mendekatiku lagi seperti dulu, tapi sayangnya, itu hanya impian belaka.. haha.. itu tidak pernah terjadi.. asal.. kalian..tahu..haha..

Tapi makin kesini.. jujur. Aku sudah tidak bisa membohongi perasaanku lagi. Aku juga sudah melakukan sesi pertanyaan pada setiap orang yang dipercaya bisa menjawab dengan benar tentang satu hal, tentang yang selama ini aku tidak mengerti bagiamana dan seperti apa rasanya. Aku hanya yah..

Ya, baiklah, kali ini aku akan ambil satu-satunya percakapan yang menurutku paling menarik, dari temanku, teman didunia maya sih, tapi sepertinya ia mengerti, dan aku senang. Kita komunikasi lewat YM, kira-kira seminggu yang lalu. Dan itulah obrolan yang membuatku sadar kalau aku TELAH JATUH CINTA pada Rio.

RaissaCha: Hei Shil
ShillaZHR: Hei, knapa?

RaissaCha: Ganggu gak?
ShillaZHR: Enggk. Santai aja, ada ap?

RaissaCha: Pengen tnya..
ShillaZHR: Ih yaudah tnya aja, apaan?

RaissaCha: Gini ya.. misalkan kamu knal cowok. Dia adek klasmu. Trus kamu itu suka merhatiin dia, dari jauh doang sih bisanya. Kalau udh deket bisanya ngalihin pandangan, malingkan muka. Gak brani natep dia, kmu ngehindar. Tp eh, pas udah dibelakangnya, kamu malah kesenengan. Snyum-snyum sendiri kayak org gila. Itu.. knp ya?

ShillaZHR: Ah, yaelah Cha.. ituuu, namanyaaaa CINTA. Ih, cieee prikitiw. Siapa nmnya Cha?

RaissaCha: Cinta? Masa sih?
ShillaZHR: Iyaaaaa  sayaang. Kmu psti suka deg-degan sndiri kan kalo udh dideket dia?

RaissaCha: Kayaknya sih iya hehe tp gak tau jg deh.. tp suka salting gitu deh aku kalo ketemu dia.

ShilalZHR: Nah loh! Itu brarti kmu suka dia.

RaissaCha: Gitu ya? Gak ada jwban lain yg lebih bijak Shil? Haha, mksudnya arti dari yg aku jalanin itu sndiri loh..

ShillaZHR: Aku prnah baca ya. Dari salah satu penulis yg maunya dibilang ‘penulis yg masih brusaha untuk jd propesional’ haha, Kak Anin ding namanya. Kmu itu brarti mencintai org itu secara diam-diam. Cinta diam-diam gitu :p

RaissaCha: I know it Shillaaaaa. Aah tp bukan itu yg aku mksud. Aduh, bingung sndiri deh jdnya.

ShillaZHR: Lah?
RaissaCha: Ohiya, dia udh punya pacar juga, Ify namanya.
ShillaZHR: O-ow, sorry

RaissaCha: Sntai kali. Eh tp iya deh, kayaknya AKU EMANG SUKA deh sma dia HAHA, aduh bru nyadar pas dia udah punya cewe yaa hmm

ShillaZHR: Cha..
RaissaCha: Ya?

ShillaZHR: Penulis yg maunya dibilang ‘penulis yg masih brusaha untuk jd propesional’ itu prnah masukin kata-kata ini disalah satu cerita kesukaanku yang dibuat dia: Mencintai diam-diam, memang hanya akan membuatnya menjadi pemimpi di dunia nyata. Pemimpi nomor satu, yang saat terbangun hanya akan menemukan kebahgiaan semunya.

RaissaCha: Emm penulis itu betul. Jd intinya, yg harus aku lakuin? Nyerahkah?

ShillaZHR: Cinta diam-diam, tidak peduli siapa yang berdiri hingga garis akhir, tetap bukan ia yang akan dikalungi medali juara.

RaissaCha: Kata siapa tuh? Haha kamu sndiri?

ShillaZHR: Bukan hehe. Itu kata ‘penulis yg masih berusaha jd propesional’ itu loh hahaha kalimatnya Kak Anin.

RaissaCha: Ah haha pantes, gk mungkin jg itu kamu
RaissaCha: Tp berarti kesannya hopeless bnget ya. Aku gak bisa apa-apa

ShillaZHR: Gini  deh, skrg kmu maunya apa?
RaissaCha: Aku? Pengen dia bahagia

ShillaZHR: Kalau gitu… relain, selesai.

Kalian tahu? Akusendiri sebenarnya tidak pernah mengharapkan perasaan yang seperti ini. Perasaan yang tidak mungkin akan terbalaskan lagi. Seperti kata Shilla, seperti yang dibilang penulis yang masih berusaha menjadi propesional itu—Kak Anin, kalau cinta diam-diam, tidak peduli siapa yang berdiri hingga garis akhir, tetap bukan ia yang akan dikalungi medali juara.

Sesak itu kembali masuk. Air mata sudah menggantung dipelupuk mata. Hari ini, aku masih dengan berani menatapnya dari jauh. Tapi ada yang lain, ada yang berbeda, ia sudah tidak sendiri lagi, ia sudah berdiri bersama wanita lain yang ada disampingnya. Ia menatap mata wanitanya teduh, dalam, hal yang selalu aku inginkan dari dirinya.
***

Jelas sekali kalau hatiku sudah terlalu lelah, capek menghadapi kenyataan-kenyataan  yang ada. Dari mulai kamu yang tak pernah menanggapi perasaan ini sampai sekarang, sampai saat ini yang akhirnya aku ketahui juga bahwa kamu tidak mencintaiku.

Kamu mencintai wanita lain, kamu memilih dia dan mengangkatnya menjadi pendamping bagimu. Bukankah ini sangat menyakitkan hei?

Untuk kesekian kalinya, aku hanya bisa melenguh dalam hati. Kamu yang menanamkan harapan itu, tapi kenapa juga kamu yang menghempaskannya? Kenapa kamu malah melupakan sinyal yang kamu berikan dengan bersanding dengan wanita lain? Dan disini, sebenarnya aku juga yang salah. salah karena tidak pernah berani untuk mendekatimu. Aku pengecut, ya aku tahu itu.

Dan andai kamu pun tahu, hatiku sakit.. sakit sekali.. Kepengapan masuk ke dalam rongga dada hingga aku merasakan sesak. Sesak yang mungkin tak akan kamu tahu rasanya bagaimana.

Telinga ini pengang. Pengang akibat mendengar semua gurauan candamu bersama wanita itu. Pengang akibat aku selalu mendengar kenyataan bahwa kamu memang sudah bersama wanita lain, tidak memilihku, tidak mengangkatku dan tidak menganggapku sama sekali..

Sepertinya, aku tidak harus meneriakkan keras-keras kalau aku itu mencintai kamu? Menyadarkan kamu bahwa ada aku disini. Bahwa ada aku yang selalu menantimu, menunggumu,dan membiarkan hati ini terus terpoles luka yang setiap hari kamu berikan.. karena aku dengan yakin, sama sekali tidak akan mau mengganggu hubungan mu dan pacarmu itu.

Ah iya, disini aku bersikap egois, aku tahu. Karena aku juga tidak bisa melihat dari sudut pandangmu. Aku tidak tahu bagaimana yang kamu sikapi karena sikapku selama ini. Aku tidak tahu, benar-benar tidak tahu. Aku.. inilah yang aku rasakan dari sudut pandangku. Dari sudut mataku. Dari hatiku, perasaanku.

Tapi yakinlah, disini aku selalu berusaha. Berusaha untuk mulai melupakan perasaanku, yang sayangnya sampai sekarang aku belum bisa. Tapi aku tetap berusaha, lagian, walaupun masih dengan lamban, aku sudah bisa menerimanya juga kok.. sepertinya sih gitu.. haha..

Sebenarnya sih sakit memang melihat kamu dan dia jalan bersama, tertawa lebar juga saling bersedekap hangat seakan dunia milik berdua. Tapi tak apa. Aku akan coba untuk terbiasa melihat semua yang kalian berdua lewati, yang kalian berdua lakukan. And now.. Iam loser..
***

Aneh ya? Haha maklumlah, orang ini emm cerita err ya itu itulah pokoknya (??)..
ini juga mirip mirip sama cerpenku yg sebelumnya, yg and last, you make me happy haha tapi ini gak happy. kenyataany gitu kok. loh?
Haha ini diambil dari pengalaman pribadi loh *eaea malah curcol

Ini erkenalan kali ya? haha. .

Ini udah ketiga kalinya mungkin ya saya bikin blog hahaha. Tau deh, kemarin-kemarin saya cuma iseng doang. Tapi bweh, untuk sekarang kayaknya mau mulai di seriusin deh blognya haha amin deh, semoga saya gak lupa dan inget terus buat ngepost disini. Harus!! Dan semangat!! Haha. .
Oh ya aku belum ngenalin diri ya. .(aku-kamunya keluar deh -_-)
Hihi gak papa deh, aku ini Zahra. Zahra Rahayu Puteri.
Lahir dari perut ibuku tersayang dan brojolnya di kota Cirebon, dirumah Bidan Sri pada tanggal 29 Sepetmeber 1996. Hoho sekarang tinggalnya juga di Cirebon, duh..duh.. berasa pengen pindah deh dari sini hehe. .
Sama keluarga tentunya. Eh tapi enggak ding gak jadi, aku kan belum selesai sekolah. Hari ini sih ya, aku itu masih kelas 9 SMP. Jadi mungkin bakal selesain dikotaku tercinta ini dulu haha.. Lagian kan aku masih muda ya? *ga nyambung eaea -_-
Siplah. Aku ini suka nulis, gak keruan sih nulisnya. Tapi kan gara-gara masih muda juga aku kan bakal terus belajar nulis ya nggak hahaha, selagi masih ada waktu, jadikan masa muda dengan pekerjaan yang bermanfaat haha. . tapi umur ya gak ada tau deh, cuma Dia aja yang tau ya kan? :)
Segini dulu aja deh, moga-moga, sekali lagi aku berharap bisa terus ngepost hihi. Aminin ya? Amiin *stres
Oke bye, see you next time, mmuaaach -__-